Latest News
Rabu, 18 Maret 2015

Bumi Satu Tiada Duanya


Ir. Rony Ardiansyah, MT, IP-U.

Peminat Sains Qur’an/Dosen Pasca Sarjana Magister Teknik Sipil UIR

Seorang ahli geologi, Ir. Agus Haryo Sudarmojo mengemukakan pendapatnya dalam buku yang berjudul: Menyibak Rahasia Sains Bumi dalam Al-Qur’an.

Pertanyaannya adalah mengapa semua ini bisa terjadi? Apakah hanya karena sebuah kebetulan ataukah ada yang sengaja menciptakannya? Sejauh ini, di antara jutaan bahkan triliunan planet dalam galaksi kita, belum ditemukan planet lain yang benar-benar mirip dengan planet bumi. Jika bumi ini sangat langka, artinya kita sedang memenangkan sebuah “undian kosmis”, dan ternyata kita adalah plenet yang mujur dan kita berada ditempat yang sangat beruntung. Semua hal di atas menunjukkan sebuah “rancangan cerdas” agar kehidupan berlangsung dan bertahan di Planet Bumi.

Sedikit informasi inipun sudah cukup menunjukkan bahwa keberadaan Planet Bumi bukan karena kebetulan atau terbentuk oleh serangkaian kejadian acak. Allah SWT, telah memaparkan hal tersebut di dalam (QS Al-Dukhan 44:38). Dan kami tidak menciptakan langit dan bumi dan apa yang ada di antara keduanya dengan bermain-main. Kami tidak menciptakan keduanya melainkan dengan hag, tetapi kebanyakan mereka tidak mengetahui.

Bumi satu tiada duanya, diuraikan dengan jelas oleh Umar Juaro dalam bukunya: Kebenaran Alquran Dalam Sains, sebagai persandingan wahyu dan teori fisika tentang alam semesta. Para ilmuan mengatakan bahwa bumi kita ini berada pada “daerah khusus” (goldilocks zone) di sekitar matahari. Jaraknya dari matahari tidak terlalu jauh dan tidak terlalu dekat. Jarak bumi dan matahari cukup jauh sehingga air tidak membeku, dan unsur kimia yang penting bagi kehidupan dapat terbentuk.

Jika jarak bumi dari matahari lebih jauh lagi, maka bumi akan seperti Planet Mars yang membeku, dengan temperatur sangat rendah sehingga air dan bahkan karbon dioksida membeku menjadi padat. Jika bumi ini lebih dekat lagi dengan matahari, maka akan menjadi seperti Planet Venus yang ukurannya identik dengan bumi tetapi dikenal sebagai planet “rumah kaca” (green house planet). Karena Venus sangat dekat dengan matahari dan atmosfirnya terbuat dari karbon dioksida, cahaya matahari ditangkap oleh atmosfirnya yang membuat temperaturnya sangat tinggi. Karena itu Venus menjadi planet yang paling panas di atas tata surya kita. Dengan terjadinya hujan asam sulfat, tekanan atmosfir seratus kali lebih besar daripada bumi. Dalam keadaan demikian kehidupan tidak dapat berkembang.

Kita juga berada di daerah khusus dari sistem massa planet. Jika massa Planet Bumi sedikit lebih kecil dari ukurannya sekarang, gaya gravitasi akan sangat lemah sehingga tidak dapat menahan oksigen untuk tetap berada di bumi. Kehidupan tanpa oksigen tidak dapat terjadi. Jika bumi terlalu besar ukurannya, maka gaya gravitasinya juga terlalu kuat sehingga gas-gas beracun masih tertahan di permukaan bumi yang menghambat perkembangannya kehidupan.

Ukuran bumi sangat tepat untuk membuat komposisi atmosfir dapat mendukung berkembangnya kehidupan. Begitu pula keberadaan Planet Jupiter di tata surya kita sangat penting bagi kehidupan di bumi, karena dengan gravitasinya yang sangat besar dapat mencegah asteroid jatuh ke bumi. Untuk membersihkan tata surya kita dari asteroid dan komet membutuhkan waktu satu miliar tahun di mana peristiwa ini terjadi 3,5 – 4,5 miliar tahun yang lalu. Jika Planet Jupiter berukuran kecil dan graviatsi lemah, maka tata surya kita masih dipenuhi oleh asteroid yang membuat kehidupan di bumi tidak mungkin terjadi.

Jatuhnya asteroid ke bumi akan menyebabkan gempa besar dan jika jatuh ke laut akan menyebabkan tsunami yang dapat menghancurkan kehidupan. Jadi Jupiter juga mempunyai ukuran yang tepat.

Begitunya juga halnya dengan keberadaan bulan, jika bulan yang mengelilingi bumi ukurannya sedikit lebih kecil dari yang akan sekarang ini, maka perubahan sedikit saja dari rotasi bumi lama kelamaan akibatnya akan dirasakan dalam ratusan juta tahun yang menyebabkan bumi bergoyang dan terjadi perubahan cuaca yang drastis yang dapat berakibat pada punahnya kehidupan di bumi.

Program simulasi komputer memperlihatkan bahwa tanpa bulan yang cukup besar (ukurannya 1/3 bumi), maka poros bumi akan bergeser sebanyak 90 derajat dalam waktu beberapa juta tahun. Ilmuan juga menyatakan bahwa keadaan tersebut merupakan contoh dari apa yang dikenal sebagai prinsip antropic (anthropic principle), yang menyebutkan bahwa hukum-hukum alam diatur sedemikian rupa sehingga kehidupan dimungkinkan terjadi dan berkembang.

Para ilmuan berpendapat apakah keadaan ini diatur oleh perancang yang lebih besar ataukah karena suatu kebetulan. Jika ini dianggap kebetulan, mengapa demikian banyak kebetulan itu. Bagi kita yang beriman, ini adalah ciptaan Allah SWT yang sengaja mengatur hokum alam untuk membuat kehidupan dapat berkembang. Tetapi bagi banyak ilmuan kejadian ini adalah hasil dari sejumlah kejadian yang bersifat kebetulan (random).

Pembahasan mengenai penciptaan alam semesta secara filosofis merupakan perdebatan klasik yang keras dan berkualitas tinggi dikalangan intelektual Islam sejak abad ke-19 M. Terutama antara apa yang disebut dengan kalangan Mu’tazilah yang sangat dipengaruhi oleh filsafat Yunani dan Aristoteles dan (neo) platonic dengan kalangan Ash’ariati yang menekankan kemurnian ajaran Islam sekalipun tetap memandang pentingnya penggunaan akal dalam memahami agama.

Perbedaan klasik antara Ibnu Sina dan Ibnu Rushd di satu sisi dengan Al-Ghazali di sisi lain.Filsafat Islam ini sangat penting dalam memberikan arah perkembangan ke depan bagi ilmu pengetahuan khususnya yang menyangkut masalah penciptaan, perkembangan, dan akhir dari alam semesta.***
  • Blogger Comments
  • Facebook Comments

0 komentar:

Posting Komentar

Item Reviewed: Bumi Satu Tiada Duanya Rating: 5 Reviewed By: Muhammad Ismail