Latest News
Senin, 13 April 2015

Malaikat dan Jibril As Makhluk Ciptaan Allah yang Mampu Menembus Batas Ruang dan Waktu


Allah SWT adalah sang pencipta segala makhluk di langit dan di bumi. Banyak sekali makhluk ciptaan Allah yang tidak mungkin untuk kita mengetahui seluruhnya. Dia telah menciptakan seluruh makhluk dengan bahan yang berbeda-beda, sehingga makhluk yang Dia ciptakan itu memiliki sifat – sifat fisik yang berbeda-beda pula. Manusia, yang seluruh keturunannya berasal dari Nabi Adam AS diciptakan oleh Allah dari tanah liat kering yang berasal dari lumpur hitam kemudian diberi bentuk. Bangsa jin berasal dari api yang sangat panas. Sedangkan malaikat diciptakan oleh Allah SWT dari cahaya.

Manusia berasal dari tanah, sedangkan tanah sendiri memilki sifat keras, berat dapat disentuh dan dirasakan. Maka dari itulah manusia menjadi makhluk yang kasat mata, dapat disentuh dan tidak dapat bergerak cepat karena pergerakannya dibatasi oleh beratnya yang cukup besar. Bangsa jin diciptakan dari api yang bersifat ringan, mudah digerakkan oleh angin dan panas. Ini membuat bangsa jin tidak kasat mata, tidak dapat disentuh dan dapat bergerak sangat cepat. Malaikat diciptakan dari suatu sumber yang indah, yaitu cahaya yang bersifat terang, ringan dan sangat cepat menjalarnya. Bahan dasarnya ini membuat malaikat tidaklah kasat mata dan gerakannya sangat cepat sekali sehingga tidak dapat ditandingi oleh makhluk mana pun.

Malaikat adalah makhluk ciptaan Allah yang Dia ciptakan untuk mengerjakan tugas-tugas tertentu, tidak memiliki hawa nafsu yang dapat membuat mereka berpaling dari perintah-Nya serta akan selalu taat dan patuh kepada -Nya. Sebagian malaikat-Nya ada yang diberi tugas untuk mengurusi dunia ini dan makhluk-makhluk yang berada di dalamnya. Dengan adanya malaikat ini tentunya bukan berarti Allah tidak sanggup atau kesulitan untuk mengurusi sendiri makhluk ciptaan di dunia ini, melainkan karena Dia adalah Maha Raja, dimana seorang raja pastilah memiliki wakil-wakil yang diberi tugas untuk mengurusi semua tanpa harus sang raja sendiri yang turun tangan. Apalagi Allah SWT, Dia adalah Raja di atas raja sehingga lebih berhak untuk memiliki wakil-wakil yang mewakilinya dalam mengurus segala sesuatu.

Allah tidak mungkin membebani makhluk ciptaanNya dengan sesuatu yang tidak mungkin ia lakukan, begitu pula dengan para malaikatNya. Karena tugas-tugas yang diembankan kepada mereka, para malaikat, membutuhkan kecepatan yang tinggi maka mereka diciptakan memiliki kemampuan bergerak dengan sangat cepat sekali. Tentunya kecepatan terbang mereka disesuaikan juga dengan tugas mereka masing-masing –dan hanya Allah SWT yang mengetahuinya- , sehingga kemampuan terbang mereka bisa jadi berbeda-beda.

“Segala puji bagi Allah pencipta langit dan bumi, yang menjadikan malaikat sebagai utusan - utusan ( untuk mengurus berbagai - macam urusan ) yang mempunyai sayap masing - masing ( ada yang ) dua, tiga dan empat. Allah menambahkan pada ciptaan - Nya apa yang dikehendaki - Nya. Sesungguhnya Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu.” (Surat Al Fathir ayat 1).

Ayat di atas sangat jelas bagi kita bahwa di antara para malaikat ada yang memiliki sayap 2 pasang, 3 pasang, 4 pasang dst yang sesuai dengan kehendak-Nya. Bahkan dalam suatu hadits dikabarkan bahwa Rasulullah pernah melihat Jibril dalam wujud aslinya yang memiliki 600 pasang sayap. Allah telah melebihkan malaikat-Nya yang satu dengan yang lainnya menurut apa yang diinginkan-Nya sesuai dengan tugas dan kedudukannya masing-masing. Bisa jadi jumlah sayap itu menunjukkan kemampuan kecepatan terbang malaikat-malaikat tsb, seperti mesin jet pada pesawat terbang, maka jika mesin itu ditambahkan maka akan semakin cepat pesawat tsb terbang. Tetapi bisa jadi itu menunjukkan kedudukan mereka di sisi Allah SWT, wallahu’alam.

Telah disebutkan bahwa para malaikat memiliki kemampuan untuk bisa bergerak cepat, bahkan dapat menembus batas ruang dan waktu yang tidak mungkin dicapai oleh manusia tanpa mukjizat dari Allah. Hanya satu orang manusia saja yang diberikan-Nya kesempatan untuk bisa menembus batas ruang dan waktu yang dapat dilalui oleh malaikat, yaitu Rasulullah SAW yang kisahnya akan kami ceritakan lebih lanjut di Bab V InsyaAllah.

Untuk lebih mengetahui tentang seberapa cepatnya para malaikat itu bergerak, marilah kita tinjau di dalam Surat Al Ma’arij ayat 4 berikut, “Malaikat - malaikat dan Jibril naik ( menghadap ) kepada Allah dalam sehari yang kadarnya lima puluh ribu tahun.“

Apa maksud dari ayat ini ?. Dalam tafsir Ibnu Katsir dijelaskan bahwa beberapa ahli tafsir terdahulu, salah satunya adalah Abu Abdillah Al-Hulami sebagaimana yang dikutib oleh Al Hafidz Abu Bakar Al-Baihaqi dalam kitabnya, Al Ba’tsu wa An Nusyur mengatakan bahwa “Malaikat menempuh jarak tersebut dalam tempo setengah hari. Karena, kalau itu merupakan ukuran jarak yang bisa ditempuh, maka tidak akan ada seorang pun yang bisa menempuhnya kecuali dalam jangka waktu 50.000 tahun.” Dari sini dapat kita ambil kesimpulan bahwa jika malaikat dan Jibril menghadap kepada Allah ( di Sidratul Muntaha tempat saat Rasulullah SAW berdialog langsung dengan Allah saat Mi’raj, wallahu’alam ) akan menempuh waktu sehari atau setengah hari jika menurut pendapat Abu Abdillah Al Hulami. Sehari di sini tentunya adalah sehari seperti hari-hari yang dihitung di dunia (oleh manusia), yaitu 24 jam atau kurang dari itu. Sedangkan jika manusia yang mengarungi jarak yang sama dengan malaikat itu, maka tidak akan sampai melainkan harus menempuhnya selama 50.000 tahun. Bayangkan saja, perbandingan ini terpaut sangatlah jauh, 1 hari dibandingkan dengan 50.000 tahun (18,25 juta hari), maka akan sulit sekali untuk membayangkan seberapa cepat para malaikat itu bergerak. Dengan kecepatan terbang yang sangat luar biasa itulah, para malaikat dan Jibril dapat menembus batas langit dan bumi dengan sangat mudah sekali.

Kemudian, siapakah para malaikat yang dimaksud oleh Allah pada ayat 4 surat Al Ma’arij di atas ?. Jika yang dimaksud adalah malaikat pendamping manusia maka ada suatu hadits riwayat Bukhari dari Abu Hurairah RA, bahwa Rasulullah SAW bersabda “Malaikat malam dan malaikat siang silih berganti datang kepada kalian, mereka berkumpul pada saat shalat Shubuh dan shalat Ashar, kemudian yang bersama kalian naik kepada-Nya, maka Dia tanyakan kepada mereka -dan Dia lebih mengetahui tentang mereka-, “Bagaimana keadaan hamba-hambaku ketika kalian meninggalkannya?” mereka berkata, “Ketika kami tinggalkan mereka sedang shalat, dan ketika kami datangi mereka pun sedang shalat.”

Malaikat pendamping manusia silih berganti datangnya setiap Ashar dan Shubuh. Jika malaikat malam datang, maka mereka datang pada saat Ashar dan mendampingi sampai Shubuh esok hari, sedangkan malaikat siang datang pada saat Shubuh dan kembali pada saat Ashar. Otomatis di sini malaikat malam dan siang hanya menjalankan tugas selama 11 – 13 jam saja atau sekitar 0,5 hari, yaitu jarak waktu antara shalat Ashar dan Subuh selanjutnya naik kepada Allah. Berarti sisa waktu mereka adalah 0,5 hari lagi untuk naik kepada Allah kemudian turun lagi ke bumi ini. Karena jarak antara bumi - Sidratul Muntaha sama dengan jarak baliknya, yaitu Sidratul Muntaha - bumi, sehingga seharusnya mereka hanya membutuhkan waktu sekitar separuh dari 11-13 jam itu (sekitar 5,5-6,5 jam) untuk menghadap-Nya dari bumi dan kembali ke dunia dari Sidratul Muntaha dalam waktu yang sama (sekitar 5,5-6,5 jam). Ini berarti waktu mereka untuk pergi dari bumi ke Sidratul Muntaha ataupun sebaliknya hanyalah sekitar 0,25 hari saja. Jadi di sini tentunya mereka tidak memerlukan waktu yang lama untuk mencapai Sidratul Muntaha, karena Allah telah memberikan kelebihan kepada mereka dengan kemampuan bergerak sangat cepat bahkan jauh lebih cepat daripada kecepatan cahaya yang diketahui oleh manusia.

Menurut postulat Einstein yang telah kami utarakan di artikel sebelumnya dikatakan bahwa tidak ada kecepatan yang melebihi kecepatan cahaya. Berarti kemungkinan besar kecepatan malaikat ini melanggar postulat Einstein. Tetapi bukan berarti apa yang dipostulatkan Einstein adalah suatu kesalahan, mengapa ?. Jawabannya adalah karena sampai sekarang belum ada satu pun kecepatan di alam semesta ini yang melebihi kecepatan cahaya menurut apa yang dapat diindera dan diteliti oleh manusia. Sedangkan malaikat, ia bukanlah sesuatu yang dapat dilihat oleh manusia apalagi mengukur kecepatannya secara eksak. Di dalam ilmu fisika, segala sesuatu harus dapat diindera dan dihitung, sedangkan malaikat adalah makhluk gaib yang tidak tampak dan tidak mungkin diukur dengan besaran fisika. Jadi, cukuplah kita mempercayai bahwa sebenarnya masih ada kecepatan yang lebih tinggi daripada kecepatan cahaya karena malaikat mungkin saja diciptakan dari cahaya yang bukan seperti yang kita kenal sekarang ini. Sedangkan rumusan yang ditulis oleh Einstein tetap bisa berlaku untuk kondisi nyata di alam ini.

Dari ayat di atas juga dapat kita ketahui bahwa malaikat-malaikat dan Jibril cukup menempuh perjalanan selama 1 hari saja untuk menghadap Allah. Satu hari yang dimaksud di sini adalah seperti hari-hari yang kita hitung di dunia ini. Bagaimana dengan waktu perhitungan di langit ?. Surat Al Hajj ayat 47 sebelumnya telah mengabarkan kepada kita bahwa 1 hari menurut perhitungan Allah di langit adalah 1000 tahun menurut perhitungan kita di dunia. Maka jika malaikat naik menghadap Allah dalam waktu 1 hari yang adalah 24 jam menurut waktu kita di bumi, maka waktu naiknya malaikat akan sangat singkat sekali, hanya sekitar 0,24 detik saja menurut perhitungan Allah. Angka ini tentunya bisa lebih kecil lagi jika ternyata yang dimaksud 1 hari bukanlah 24 jam, tetapi hanya seperempat hari saja seperti analisa tentang malaikat pendamping manusia di atas.
  • Blogger Comments
  • Facebook Comments

0 komentar:

Posting Komentar

Item Reviewed: Malaikat dan Jibril As Makhluk Ciptaan Allah yang Mampu Menembus Batas Ruang dan Waktu Rating: 5 Reviewed By: Muhammad Ismail