Latest News
Senin, 04 April 2016

HASIL KAJIAN ILMIAH: BERFIKIR ITU PENGORBANAN BESAR


Oleh : Dokter Hanny Rono

Pada tahun 2014, Timothy Wilson dari University of Virginia melakukan 11 rangkaian studi penelitian tentang berfikir. Para partisipan berusia antara 18-77 tahun dan dengan beragam latar belakang keahlian.

Selama eksperimen berlangsung, para partisipan diminta untuk duduk sendirian sambil berfikir di ruangan kosong selama 15 menit tanpa telepon selular, tanpa membaca dan menulis. Pada eksperimen berikutnya partisipan diminta untuk beraktivitas seperti biasa tapi tanpa berkomunikasi satu sama lain dengan rentang waktu yang sama saat ia duduk sendirian berfikir.

Kesimpulan dalam hasil penelitian ini menyebutkan bahwa pada umumnya orang-orang cenderung lebih nyaman memilih melakukan sesuatu seperti mendengarkan musik atau memainkan smartphone daripada harus menghabiskan waktu sendirian dengan berfikir.

Bahkan gejala seakan-akan berfikir itu seperti hal yang berat atau menyakitkan muncul pada sebagian partisipan yang lebih memilih rasa sakit pada tubuhnya ketimbang berfikir. 12 orang dari 18 partisipan laki-laki memutuskan untuk menggunakan tombol kejutan elektrik ringan pada tubuhnya selama periode 15 menit berfikir. Hal ini terjadi pula pada 6 orang dari 24 partisipan wanita.

Penilitian ini semakin menguatkan begitu tingginya nilai usaha berfikir dalam Islam. Akal atau ”Al-Aqlu” disebutkan sebanyak 49 kali dalam al-Qur’an, yang semuanya dalam bentuk kata kerja “fi’il”. Alat berfikir di dalam al-Quran juga disebut “Al-Qalb”, “Al-Fu’ad”, “An-Nuhâ”, “Al-Hijr”, “Al-Hilm” dan “Al-Lubb” yang semuanya juga berarti akal fikiran. Sedangkan “Ulul Albab” 10 kali, “Ulin Nuha” 2 kali. Dalam khasanah kebahasaan, pengulangan bisa diartikan sebagai tingkat pentingnya makna kata yang diulang tersebut. Artinya, semakin banyak kata diulang, semakin penting arti kata tersebut.

Apa yang membedakan berfikir ala seorang muslim adalah memadukan fikir dengan dzikir, yang artinya ia harus menjadi ilmuwan (eksakta) sekaligus sebagai ulama (spiritual) di saat ia berfikir. Jadi, pengorbanan dalam berfikir seorang muslim itu tiga kali lebih besar tantangannya, karena perlu semangat untuk mau berfikir, perlu tenaga untuk berfikir, perlu keimanan dan keikhlasan untuk berdzikir. Dan tentunya luar biasa besar imbalan pahala yang didapat dari pengorbanan besar dalam berfikir tersebut. Mungkin inilah yang bisa menjelaskan dalam beberapa hadits diterangkan bahwa berfikir sesaat lebih baik dari Qiyamul Lail atau ibadah puluhan tahun ( http://goo.gl/xrzeFV )

Begitu pentingnya berfikir bagi insan manusia hingga ada predikat mengerikan yang diberikan Allah SWT bagi orang-orang yang tidak mau berfikir:

“Sesungguhnya binatang (mahluk) yang seburuk-buruknya pada sisi Allah ialah; orang-orang yang pekak dan tuli yang tidak mengerti apapun.” (QS. al-Anfaal:22)

“Atau apakah kamu mengira bahwa kebanyakan mereka itu mendengar atau memahami. Mereka itu tidak lain, hanyalah seperti binatang ternak, bahkan mereka lebih sesat jalannya (dari binatang ternak itu).” (QS. al-Furqaan:44)

Sebagai tambahan, Ibnul Qayyim al-Jauziah menyebutkan berfikir adalah pangkal segala kebaikan: “Berpikir akan membuahkan pengetahuan, pengetahuan akan melahirkan perubahan keadaan yang terjadi pada hati, perubahan keadaan hati akan melahirkan kehendak, kehendak akan melahirkan amal perbuatan. Jadi, berpikir adalah asas dan kunci semua kebaikan...” (Miftah Daris Sa’adah: 226)

SUMBER:
- T. D. Wilson, D. A. Reinhard, E. C. Westgate, D. T. Gilbert, N. Ellerbeck, C. Hahn, C. L. Brown, A. Shaked. Just think: The challenges of the disengaged mind. Science, 2014. http://goo.gl/886vLB
- Image courtesy by gosphotodesign / Fotolia
  • Blogger Comments
  • Facebook Comments

0 komentar:

Posting Komentar

Item Reviewed: HASIL KAJIAN ILMIAH: BERFIKIR ITU PENGORBANAN BESAR Rating: 5 Reviewed By: Muhammad Ismail